JAKARTA - Lonjakan harga cabai rawit merah di Kabupaten Gunungkidul menghadirkan dinamika berbeda antara petani dan konsumen.
Di tengah cuaca ekstrem yang memengaruhi hasil tanam, harga di pasar justru meroket hingga Rp 100.000 per kilogram.
Sementara di tingkat petani, harga jual sudah mencapai Rp 90.000 per kilogram. Kondisi ini mencerminkan situasi pasokan yang terbatas di saat permintaan tetap tinggi.
Di Pasar Argosari, Wonosari, Daerah Istimewa Yogyakarta, harga cabai rawit merah kini menyentuh Rp 100.000 per kilogram.
Kenaikan tersebut terjadi dalam sepekan terakhir dan disebut-sebut sebagai salah satu yang tertinggi dalam beberapa waktu terakhir. Di sisi lain, para petani yang berhasil memanen di tengah cuaca yang tidak menentu merasakan dampak positif dari lonjakan harga tersebut.
Salah satu petani yang merasakan kondisi ini adalah Triyani, warga Padukuhan Dringo, Bendung. Ia menanam 500 batang cabai sejak Desember 2025.
Tanaman tersebut kini telah memasuki masa panen, meskipun proses budidayanya tidak berjalan mudah akibat cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini.
Panen di Tengah Cuaca Ekstrem
Triyani mengungkapkan bahwa dari ratusan batang cabai yang ia tanam, tidak semuanya mampu bertahan. Cuaca ekstrem menyebabkan sejumlah tanaman mati sebelum sempat berbuah. Meski demikian, ia tetap bersyukur karena sebagian besar tanamannya masih bisa tumbuh dan menghasilkan panen.
Saat ini, ia sudah memetik sekitar 10 kilogram cabai dari lahannya. Hasil tersebut langsung terjual dengan harga Rp 90.000 per kilogram. “Ini yang saya petik sudah dipesan. Jadi, setelah dipanen sudah ada yang mengambilnya seharga Rp 90.000 per kilo,” ucap dia.
Harga tersebut dinilai cukup menguntungkan bagi petani, terutama setelah menghadapi risiko gagal panen akibat faktor cuaca. Triyani pun berharap harga cabai tetap stabil di angka yang menguntungkan agar petani dapat memperoleh hasil maksimal dari kerja keras mereka.
“Tetap bersyukur karena masih banyak yang tumbuh dan berhasil panen. Mudah-mudahan harga bisa terus bagus agar petani mendapatkan untung,” ucap dia.
Harga Pasar Sentuh Rp 100.000
Kenaikan harga di tingkat petani sejalan dengan lonjakan harga di pasar tradisional. Di Pasar Argosari, Wonosari, harga cabai rawit merah telah mencapai Rp 100.000 per kilogram.
Sutingah, salah satu pedagang di pasar tersebut, membenarkan kondisi itu. “Cabai rawit merah jualnya Rp 100.000, per kilonya, beberapa waktu lalu pernah naik lebih dari itu,” kata Sutingah.
Menurutnya, harga cabai mulai merangkak naik sejak sepekan terakhir. Namun, pergerakan harga tidak sepenuhnya stabil. Fluktuasi masih terjadi hampir setiap hari, tergantung pada pasokan yang masuk ke pasar.
“Kadang naik kadang turun sedikit, naik lagi,” kata dia.
Situasi ini membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual secara cepat. Ketika pasokan terbatas, harga cenderung melonjak. Sebaliknya, jika pasokan sedikit bertambah, harga bisa turun meski tidak signifikan.
Dampak pada Daya Beli Masyarakat
Lonjakan harga cabai berdampak langsung pada konsumen. Wardani, pedagang lainnya di Pasar Argosari, mengakui kenaikan harga membuat daya beli masyarakat menurun. Konsumen cenderung mengurangi pembelian cabai ketika harga berada jauh di atas normal.
“Iya menurun dibanding harga normal,” kata Wardani.
Cabai merupakan salah satu komoditas penting dalam kebutuhan dapur sehari-hari masyarakat Indonesia. Ketika harganya melonjak drastis, sebagian warga memilih membeli dalam jumlah lebih sedikit atau bahkan mengganti dengan bahan lain.
Penurunan daya beli ini menjadi konsekuensi dari tingginya harga yang dipicu oleh terbatasnya pasokan di tengah cuaca ekstrem.
Pasokan Berkurang dan Belum Masa Panen
Kepala Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Gunungkidul, Kelik Yuniantoro, menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai tidak hanya terjadi di wilayahnya. Hampir semua daerah mengalami kondisi serupa.
Menurutnya, lonjakan harga dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan di pasar serta belum masuknya masa panen raya. Selain itu, faktor cuaca ekstrem turut memengaruhi hasil produksi petani.
Berdasarkan laporan yang masuk ke dinas, kenaikan harga cabai rawit merah tertinggi terjadi. Saat itu, harga melonjak dari Rp 80.000 menjadi Rp 100.000 per kilogram.
Kondisi tersebut memperlihatkan kenaikan yang cukup signifikan dalam waktu singkat. Meski demikian, Kelik menyebut harga diperkirakan akan berangsur membaik ketika masa panen telah tiba.
“Nanti jika sudah panen akan berangsur membaik,” kata Kelik.
Dinamika Harga dan Harapan Stabilitas
Fenomena harga cabai yang melonjak bukan hal baru, terutama ketika faktor cuaca memengaruhi produksi. Dalam kondisi normal, pasokan yang stabil akan menjaga harga tetap terkendali. Namun ketika cuaca ekstrem menyebabkan banyak tanaman rusak atau gagal panen, pasokan menurun dan harga pun terdorong naik.
Bagi petani seperti Triyani, kenaikan harga menjadi peluang untuk menutup risiko kerugian akibat tanaman yang mati. Sementara bagi pedagang dan konsumen, harga tinggi menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keseimbangan kebutuhan dan pengeluaran.
Meski harga saat ini masih fluktuatif, harapan terhadap datangnya masa panen menjadi kunci stabilisasi. Jika produksi kembali normal dan pasokan meningkat, harga diperkirakan turun secara bertahap.
Kondisi di Gunungkidul mencerminkan bagaimana faktor cuaca, pasokan, dan permintaan saling berkaitan dalam menentukan harga komoditas pangan. Di tengah tantangan cuaca ekstrem, petani yang berhasil panen menikmati harga jual tinggi, sementara konsumen harus menyesuaikan pola belanja mereka.
Dengan menunggu masa panen berikutnya, pemerintah daerah berharap harga cabai rawit merah dapat kembali stabil sehingga keseimbangan antara keuntungan petani dan daya beli masyarakat tetap terjaga.