PalmCo Percepat Produksi CPO dan Minyak Kita Hadapi Ramadan 2026

Senin, 23 Februari 2026 | 11:22:58 WIB
PalmCo Percepat Produksi CPO dan Minyak Kita Hadapi Ramadan 2026

JAKARTA - Holding Perkebunan PT Perkebunan Nusantara III (Persero) melalui subholdingnya, PTPN IV PalmCo, mempertegas kesiapan pasokan crude palm oil (CPO) dan minyak goreng menjelang dan selama Ramadan 1447 Hijriah serta Idul Fitri dengan strategi dari hulu sampai hilir. Pernyataan ini disampaikan sebagai jawaban atas kekhawatiran potensi lonjakan permintaan masyarakat yang biasanya meningkat signifikan setiap tahun menjelang momen keagamaan tersebut.

PalmCo Siapkan Produksi Lebih Tinggi Sejak Awal Tahun

Direktur Utama PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menjelaskan bahwa lonjakan permintaan minyak goreng dan bahan bakunya sudah diprediksi sejak awal tahun. PalmCo telah menyusun dan melaksanakan skenario peningkatan produksi agar stok dan suplai tetap memadai sepanjang periode konsumsi tinggi. Menurut data internal perusahaan, realisasi produksi CPO pada Januari 2026 telah melampaui target bulanan, dengan capaian lebih dari 200.000 ton, menunjukkan kesiapan memenuhi kebutuhan domestik.

Menyongsong periode puncak konsumsi rumah tangga pada Maret sampai April 2026, PalmCo menargetkan lonjakan produksi sebesar sekitar 10,5 persen sehingga volume CPO yang dihasilkan mencapai 225.940 ton pada April mendatang. Langkah ini dinilai krusial untuk menahan potensi tekanan harga di pasar domestik yang sering terjadi ketika permintaan melonjak tajam.

Fokus Hilir pada Minyak Kita untuk Menjaga Harga Terjangkau

Di sektor hilir, anak usaha PalmCo, PT Industri Nabati Lestari (INL), juga menaikkan target produksi minyak goreng ritel. Target produksi minyak goreng pada Maret diperkirakan mencapai sekitar 4,2 juta liter, dan diproyeksikan meningkat sekitar 7,6 persen menjadi lebih dari 4,55 juta liter pada April 2026 untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi rumah tangga.

Pelaksana Tugas Direktur INL, Darwin Hasibuan, mengatakan seluruh kapasitas produksi dan distribusi saat ini difokuskan pada merek minyak goreng program pemerintah, yakni Minyak Kita. Dalam situasi ini, produksi beberapa merek komersial internal perusahaan ditunda sementara untuk memastikan pasokan minyak goreng bersubsidi tersebut tersebar luas di pasar.

Menurut Darwin, strategi ini ditempuh agar harga minyak goreng tetap terjangkau di tingkat konsumen. Dengan fokus penuh pada Minyak Kita, PalmCo dan INL berharap dapat menahan lonjakan harga yang biasa terjadi ketika masyarakat meningkatkan permintaan pada bulan puasa dan menjelang Lebaran.

Komitmen Terhadap Keberlanjutan dan Keterlacakan Rantai Pasok

Selain upaya meningkatkan volume produksi, PalmCo menyatakan komitmennya mempertahankan standar keberlanjutan dan transparansi dalam industri kelapa sawit. Dari total 71 pabrik kelapa sawit yang dikelola perusahaan, sebanyak 67 pabrik atau 94,36 persen telah mengantongi sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sementara 68 pabrik atau 95,77 persen telah memiliki sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

PalmCo juga memperkuat sistem keterlacakan (traceability) bahan baku. Integrasi data kebun dan pabrik dilakukan di sejumlah unit percontohan, sehingga asal usul tandan buah segar (TBS) dapat ditelusuri kembali sampai ke sumbernya. Menurut Jatmiko, transparansi rantai pasok menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap produk yang dihasilkan.

“Masyarakat berhak mendapatkan jaminan bukan hanya soal harga dan stok, tetapi juga kepastian bahwa minyak goreng diproduksi dari sumber yang lestari dan terlacak,” ujar Jatmiko menegaskan komitmen PalmCo dalam era permintaan tinggi ini.

Tantangan Pasokan dan Upaya Menahan Gejolak Harga

Konsumsi bahan pokok termasuk minyak goreng biasanya meningkat tajam saat Ramadan, sehingga perlu strategi kuat untuk menahan tekanan harga di pasar. Selain peran produsen seperti PalmCo, sejumlah pihak lain juga menyiapkan cadangan untuk menjamin ketersediaan komoditas pangan tersebut. Misalnya, Perum Bulog telah menambah stok minyak goreng Minyakita hingga puluhan ribu kiloliter untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan dan Lebaran, sekaligus menjaga harga eceran tertinggi tetap terjangkau bagi masyarakat.

Kesiapan ini menjadi bagian dari sinergi pemerintah dan pelaku industri guna menjaga keseimbangan pasokan dalam negeri terhadap lonjakan permintaan yang diproyeksikan tidak hanya dari konsumen rumah tangga tetapi juga dari sektor usaha kecil dan menengah yang aktif selama bulan puasa.

Secara keseluruhan, strategi PalmCo yang mencakup peningkatan produksi hulu, fokus distribusi di hilir, serta penegakan prinsip keberlanjutan dan keterlacakan dipandang sebagai langkah penting untuk menghadapi tantangan permintaan minyak goreng selama Ramadan dan Lebaran 2026.

Terkini