JAKARTA - Menjelang waktu magrib, pemandangan yang sama selalu terulang di berbagai sudut ibu kota: lapak gorengan dipadati pembeli yang tak sabar menanti azan berkumandang. Bagi banyak orang Indonesia, berbuka puasa terasa belum lengkap tanpa kehadiran gorengan di meja makan. Di tengah beragam pilihan takjil kekinian yang terus bermunculan, makanan sederhana ini tetap menjadi incaran utama.
Fenomena tersebut terlihat jelas di kawasan war takjil Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat. Setiap sore selama Ramadan, lapak penjual gorengan menjadi salah satu titik yang paling ramai diserbu. Antrean mengular, pembeli silih berganti datang, dan aneka gorengan yang baru diangkat dari penggorengan langsung berpindah ke tangan pelanggan dalam waktu singkat.
Mulai dari risol, bakwan, tahu isi, hingga tempe goreng, semuanya tersusun hangat di etalase. Aroma gurih yang menguar berpadu dengan tekstur renyah yang menggoda, seakan menjadi magnet bagi para pemburu takjil. Meski pilihan makanan berbuka kini semakin beragam, gorengan tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.
Risol Jadi Primadona Saat Berbuka
Salah satu pengunjung mengaku memilih gorengan karena rasanya yang enak dan cocok disantap saat berbuka. Dari sekian banyak pilihan yang tersedia, risol menjadi favoritnya. Baginya, risol menghadirkan perpaduan rasa dan tekstur yang pas setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Menurutnya, sensasi kulit risol yang renyah dipadu isian lembut terasa semakin nikmat ketika disantap dengan tambahan saus atau cabai rawit. "Risol sih, biasanya pake cabe atau saos," ujarnya singkat.
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Risol dinilai memiliki keseimbangan antara bagian luar yang garing dan bagian dalam yang lembut, sehingga memberikan pengalaman makan yang memuaskan. Kombinasi tersebut dianggap mampu mengembalikan energi sekaligus menghadirkan kenikmatan instan saat berbuka.
Favorit Sejak Dulu, Meski Mulai Dikurangi
Pengunjung lainnya juga mengungkapkan alasan serupa. Ia menyebut gorengan memang sudah menjadi favoritnya sejak lama. Kebiasaan memilih tahu, tempe, dan bakwan sebagai menu berbuka telah melekat sejak dulu, bahkan kerap dijadikan lauk pendamping nasi.
"Suka semua gorengan karena emang favorit sih, cuma sekarang udah mulai ngurangin. Biasanya dijadiin lauk, pake saos, atau cabe juga enak," katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa gorengan tidak hanya diposisikan sebagai camilan pembuka, tetapi juga dapat berperan sebagai lauk utama. Tahu dan tempe goreng, misalnya, sering kali dipadukan dengan nasi hangat dan sambal, menjadikannya menu sederhana yang mengenyangkan.
Meski demikian, ia mengaku mulai mengurangi konsumsi gorengan. Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan membuat sebagian orang lebih berhati-hati dalam menyantap makanan berminyak. Namun, keinginan untuk tetap menikmati gorengan saat Ramadan tetap sulit dibendung.
Gurih, Renyah, dan Terjangkau
Selain cita rasa gurih dan tekstur renyah yang menjadi daya tarik utama, faktor kemudahan akses dan harga yang relatif terjangkau juga turut membuat gorengan selalu laris manis. Di kawasan Benhil, pembeli dapat dengan mudah menemukan berbagai jenis gorengan tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Ketersediaan yang melimpah serta proses penyajian yang cepat membuat gorengan menjadi pilihan praktis. Dalam situasi menjelang magrib yang serba terburu-buru, banyak orang memilih makanan yang siap santap dan tidak memerlukan waktu lama untuk dikonsumsi.
Tak heran jika setiap sore, lapak gorengan menjadi salah satu pusat keramaian. Aktivitas jual beli berlangsung cepat. Gorengan yang baru matang langsung habis diborong, lalu digantikan dengan yang baru. Ritme tersebut terus berulang hingga waktu berbuka tiba.
Bagi para pemburu takjil, gorengan tampaknya telah melampaui status sebagai sekadar camilan. Ia menjelma menjadi bagian dari tradisi berbuka puasa yang diwariskan secara turun-temurun. Aroma khas minyak panas, suara gemericik saat adonan digoreng, hingga sensasi menggigit lapisan renyah, semuanya menghadirkan pengalaman yang identik dengan suasana Ramadan.
Meski menyadari bahwa konsumsi gorengan sebaiknya tidak berlebihan, banyak orang tetap sepakat bahwa sulit melewatkan makanan satu ini saat Ramadan. Daya tariknya bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal kebiasaan dan kenangan yang menyertainya.